Jurnalisme lher sering juga disebut dengan jurnalisme sensasional. Mengapa disebut dengan sensasional karena berita dan gambar atau grafis yang disuguhkan dilandasi dengan atau untuk mencari sensasi semata. Karena untuk mencari sensasi, apapun akan dilakukan untuk mewujudkannya. Ada juga yang menyebut dengan jurnalisme pornografi. Meskipun ketiganya berbeda istilah, dalam praktiknya ketiganya tidak jauh berbeda, yakni bersinggungan dengan “sekwilda” (sekitar wilayah dada) dan “bupati” (buka paha tinggi-tinggi). Bahkan akronim yang bisa menggambarkan jurnalisme lher saat ini lebih dari sekadar “sekwilda” dan “bupati”. Artinya, lebih tragis.
Berita atau gambar dapat dikategorikan pornografi, menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, setidak-tidaknya mengandung batasan sebagai berikut;
(1) Penggambaran tingkah laku secara erotis dengan lukisan atau tulisan yang membangkitkan nafsu birahi, dan
(2) Bahan yang dibuat dengan sengaja dan semata-mata untuk membangkitkan nafsu birahi. Sesuatu yang menyangkut pornografi selama ini sering identik dengan eksploitasi seks wanita disertai komentar yang berselera rendah.

Dalam praktiknya, jurnalisme “lher” disamping menampilkan dada dan paha wanita dari berbagai pose yang mencolok tetapi juga disertai judul-judul aso­siatif buat pembacanya yang mengarah pada seks. Meskipun kenyataannya, kata-kata yang asosiatif tersebut hanya berhubungan dengan profesi keartisan seperti main film atau menyanyi.
Jika kita melihat sejarah perkembangan media massa di Indonesia, tabloid Monitor bisa dikatakan media yang mempelopori jurnalisme lher. Dalam setiap edisinya, Monitor selalu menampilkan liputan yang berkaitan dengan “bupati” dan “sekwilda” seperti yang sudah disebutkan di atas. Dua istilah itu melekat pada diri seorang wanita. Meskipun bisa jadi pornografi juga bisa melekat pada laki-laki, dalam praktiknya wanitalah yang sering dijadikan objek eksploitasi.
Beberapa contoh penampilan berita dan atau gambar yang berbau pornografi adalah sebagai berikut; cover Hesty Syani (Monitor, 31/1/90) disertai judul, “Setelah 2 Kali Kapok Deh”; cover Heidy Diana (Monitor, 24/2/90) dengan judul, “Istri Harus Pintar Goyang”; cover Herlin Wedhaswara (Moni­tor, 7/1/90) disertai judul, “Yang Penting Sudah Ngerasain”; cover Lidya Kandouw (Monitor, 3/1/90) dengan judul, “Dulu Sampai 17 Kali, Kini Cukup Sekali”; cover Ami Ijib (Monitor, 9/9/90) disertai judul, “Berlinang Air Mata Dada”; cover Faradilla Andy (Monitor, 19/8/90) dengan judul, “Seks Tidak di Satu Jenis”; cover Iis Dahlia (Monitor, 5/9/90) dengan judul, “Supaya Goyangnya Pas…”; dan kata-kata lain seper­ti; “Sejak Umur 5, Saya Suka”, “Kalau dengan Suami ternyata Sakit”, “Saya Suka yang Panjang”, “Setelah Dua Kali Baru Nikmat” dan lain sebagainya.

Sumber: Buku Nurudin, Jurnalisme Masa Kini, Rajawali Pers, Jakarta, 2009