Jurnalime kepiting adalah istilah yang pernah dipopulerkan oleh wartawan senior Rosihan Anwar (2001). Jurnalisme kepiting adalah istilah yang dipakai Rosihan untuk melihat sepak terjang Jakob Oetama (JO) dengan Kompas-nya. Dalam pandangan mantan wartawan Pedoman yang korannya dibredel zaman Orde Baru ini, Jakob piawai dalam kiat how to play, bagaimana bermain. Ia pernah menjelaskan di depan wartawan peserta KLW-PWI (Karya Latihan Wartawan) bahwa sikapnya sebagai wartawan selalu berhati-hati. Ibarat orang yang sedang berjalan di dasar sungai dan kakinya meraba-raba apakah ada bahaya di depan. Jika ada kepiting dirasakannya menggigit kakinya, maka cepat-cepat mundur selangkah. Kalau kepiting sudah tidak ada lagi, barulah ia maju ke depan.

Dalam pandangannya, Kompas bergerak ala kepiting. Ia mencoba melangkah setapak demi setapak untuk mengetes seberapa jauh kekuasaan (baca: kaki kepiting) memberikan toleransi kebebasan pers yang ada. Jika keadaan aman, maka “kaki” Kompas terus maju, tetapi ketika kakinya digigit kepiting (baca: kekuasaan), ia akan mundur beberapa langkah terlebih dahulu.
Jadi, jurnalisme kepiting lebih menunjuk pada kebijakan yang dijalankan oleh Jakob Oetama. Tentu saja komentar ini “memerahkan telinga” Jakob. Namun dalam pandangan Rosihan, dengan sikap yang ditegaskannya dengan gaya jurnalistik yang diterapkannya, terbukti Jakob Oetama tidak saja survive, tetapi juga terus bertumbuh from strength to strength, dari kekuatan ke kekuatan. Inilah pengakuan realistis Rosihan.
Sumber: Buku Nurudin, Jurnalisme Masa Kini, Rajawali Pers, Jakarta, 2009.