Dalam acara “Clean & Clear British Film Festival 2005, Boys and Girls” di Malang, mantan video jockey MTV Nirina Zubir mengatakan bahwa saat ini tayangan TV kita banyak yang menyorot artis perempuan dari segi fisiknya saja. Itu membuat perempuan harus memenuhi kriteria tubuh tinggi, langsing, rambut hitam panjang terurai, dan kulit putih mulus.

Pernyataan Nirina ini tentu tidak mengada-ada. Coba kita lihat tayangan pada jam prime time (jam 6 sampai 9 malam). Rentang waktu itu kebayakan diisi acara-acara hiburan. Beragam acara tersebut banyak yang mengumbar eksploitasi perempuan, terutama dari sisi fisiknya. Bahkan kalau Anda melihat acara TV pada malam hari, acara-acara yang lebih “vulgar” sudah “bergentayangan”.

Contoh kasus adalah “Di Balik Lensa”, pernah ditayangkan ANTV, yang menampilkan (dengan alasan) sisi keindahan tubuh perempuan. Ini belum termasuk acara-acara lain yang mengungkap pengalaman seks bebas, gaya pacaran remaja kota dan perselingkuhan yang semakin dianggap wajar.
Apa yang menjadi masalah dengan berbagai tayangan tersebut di masyarakat? Tayangan model itu memang tidak bisa diingkari sebagai dampak dari perkembangan media komunikasi kita. TV bukan lagi diformat sebagai media pendidikan dan informasi, tetapi media hiburan. Artinya, fungsi hiburan ditempatkan pada posisi paling tinggi di atas fungsi lainnya.
TV juga tidak berdiri sendiri. Penonton juga melegitimasi TV agar membuat acara model itu. Buktinya, acara-acara sinetron yang di dalamnya mengeksploitasi perempuan justru yang paling digemari. Jadi gayung pun bersambut; pengelola TV ingin acaranya laku, sementara masyarakat membutuhkan hiburan dari TV. Maka, TV pun akan membuat acara-acara yang menghibur. Alasan klasik pun muncul; untuk memenuhi keinginan masyarakat.
Sinetron kita lantas punya isi seragam yang melulu bermuatan konflik orang tua-anak, masalah cinta dan hamil di luar nikah. Bahkan perempuan diposisikan sebagai tokoh yang selalu dimaki-maki, dan tidak jauh-jauh posisinya sebagai korban. Kalau tidak, ia akan dipotret dengan citra perempuan dengan karakter fisik ideal.

Dampak Nyata
Berbagai tayangan yang menjurus pada pornoaksi tersebut tentu saja punya dampak yang tidak ringan. Ada tiga hal yang bisa dilihat. Pertama, di pihak TV akan merasa punya legitimasi kuat bahwa mereka membuat acara yang berbau pornoaksi seperti itu karena masyarakat memang membutuhkan. Padahal ini hanya alasan untuk menutupi kepentingan kapitalis di balik itu semua. Pembuat acara itu juga bisa menikmati lekak-lekuk tubuh perempuan yang dijadikan sasaran.
Kedua, masyarakat akan mudah meniru sikap dan perilaku apa yang ditonton di TV. Masyarakat akan menganggap bahwa apa yang tersaji dalam TV itulah kenyataan yang sebenarnya. Bahwa mereka lebih percaya pada tayangan TV daripada kenyataan yang sebenarnya sangat beralasan.
Ketiga, bagi para perempuan yang mempunyai “kriteria ideal perempuan modern” akan menganggap tayangan pornoaksi itulah potret seharusnya juga terjadi pada dirinya saat ini. Mereka akan berlomba-lomba untuk meniru. Bagaimana tidak tertarik? TV mampu menjadikan semua menjadi instan. Ingin terkenal tidak usah berusaha keras atau berpendidikan tinggi, tetapi cukup dengan penampilan seadanya, didukung oleh bodi yang lumayan dan dibuat citra modern lalu masuk TV, jadilan ia terkenal. Tidak peduli apakah, perilakunya itu ditentang masyarakat atau tidak.
Lihat saja tahun 80-an sampai 90-an banyak artis Indonesia yang ingin terkenal secara instan dengan menerjuni film-film “panas”. Lihat saj artis seperti Eva Arnaz, Yenni Farida, Rani Soraya, Enny Beatrice, Febby Lawrence, Sally Marcellina, Inneke Koesherawaty, Malfin Shayna, Kiki Fatmala, Ayu Yohana, Fortunella, Yurike Prastica dan lain-lain. Banyak diantara mereka awalnya artis-artis figuran. Kemudian mendapat tempat utama, setelah kaya dan banyak tawaran mereka kemudian bertobat. Itu tentu saja setelah semua yang ingin dicapainya terpenuhi; kaya, dan terkenal.
Fenomena munculnya Akademi Fantasi Indosiar (AFI), Indonesian Idol, Penghuni Terakhir, Kontes Dangdut Indonesia menjadi salah satu bagian kecil bagaimana TV menciptakan generasi instan. Dan acara-acara itulah yang justru digemari dan diikuti oleh remaja yang ingin terkenal secara cepat. Jadi, pornoaksi tidak lagi dilakukan secara semunyi-sembunyi. Tetapi ia telah memperoleh pembenaran media modern. Bahwa pornoaksi adalak gaya hidup masyarakat modern yang membuat banyak orang ingin menirunya.