Oleh Nurudin

Ada ungkapan yang tidak tertulis tetapi diyakini kebenarannya, yakni “Hidup ini maju ke depan dan tidak mundur ke belakang.” Artinya, perubahan terus akan terjadi kearah kemajuan dan tidak sebaliknya. Tak heran, jika perubahan yang terjadi begitu cepat tanpa disadari manusia itu sendiri. Itu semua karena perantaraan teknologi komunikasi.

Kita jadi bertanya, sebenarnya yang membawa perubahan itu teknologi atau manusia? Itu semua bisa dijawab dengan teori determinisme teknologi yang pernah dikemukakan oleh Marshall McLuhan (Lihat buku saya Pengantar Komunikasi Massa, Rajawali Pers, Jakarta, 2007).


Ide dasar teori ini adalah bahwa perubahan yang terjadi pada berbagai macam cara berkomunikasi akan membentuk pula keberadaan manusia. Teknologi membentuk individu bagaimana cara berpikir, berperilaku dalam masyarakat dan teknologi tersebut akhirnya mengarahkan manusia untuk bergerak dari satu abad teknologi ke abad teknologi yang lain. Misalnya dari masyarakat suku yang belum mengenal huruf menuju masyarakat yang memakai peralatan komunikasi cetak, ke masyarakat yang memakai peralatan komunikasi elektronik.

Analoginya bisa begini. Pada awalnya, manusialah yang membuat teknologi, tetapi lambat laun teknologilah yang justru memengaruhi setiap apa yang dilakukan manusia. Zaman dahulu belum ada Hand Phone (HP) dan internet. Tanpa ada dua perangkat komunikasi itu keadaan manusia biasa saja. Tetapi sekarang dengan ketergantungan pada dua perangkat itu manusia jadi sangat tergantung. Apa yang bisa membayangkan jika manusia yang sudah sangat tergantung dengan HP atau internet dalam sehari tidak memanfaatkannya? Adakah sesuatu yang kurang dalam hidup ini? Inilah yang dinamakan determinisme teknologi (meskipun toh teknologi yang menciptakan manusia itu sendiri).

McLuhan pun berpikir bahwa budaya kita dibentuk oleh bagaimana cara kita berkomunikasi. Paling tidak, ada beberapa tahapan yang layak disimak. Pertama, penemuan dalam teknologi komunikasi menyebabkan perubahan budaya. Kedua, perubahan di dalam jenis-jenis komunikasi akhirnya membentuk kehidupan manusia. Ketiga, sebagaimana yang dikatakan McLuhan bahwa “Kita membentuk peralatan untuk berkomunikasi, dan akhirnya peralatan untuk berkomunikasi yang kita gunakan itu akhirnya membentuk atau mempengaruhi kehidupan kita sendiri”.

Kita belajar, merasa, dan berpikir terhadap apa yang akan kita lakukan karena pesan yang diterima teknologi komunikasi menyediakan untuk itu. Artinya, teknologi komunikasi menyediakan pesan dan membentuk perilaku kita sendiri. Radio menyediakan kepada manusia lewat indera pendengaran (audio), sementara televisi menyediakan tidak hanya pendengaran tetapi juga penglihatan (audio visual). Apa yang diterpa dari dua media itu masuk ke dalam perasaan manusia dan mempengaruhi kehidupan sehari-hari kita. Selanjutnya, kita ingin menggunakannya lagi dan terus menerus. Bahkan McLuhan sampai pada kesimpulannya bahwa media adalah pesan itu sendiri (the medium is the message).

Media tak lain adalah alat untuk memperkuat, memperkeras dan memperluas fungsi, dan perasaan manusia. Dengan kata lain, masing-masing penemuan media baru yang kita betul-betul dipertimbangkan untuk memperluas beberapa kemampuan dan kecakapan manusia. Misalnya, ambil sebuah buku. Dengan buku, seseorang bisa memperluas cakrawala, pengetahuan, termasuk kecakapan dan kemampuannya. Seperti yang sering dikatakan oleh masyarakat umum, dengan buku, kita akan bisa “melihat dunia”.

***
Ada banyak istilah yang menggambarkan fenomena perkembangan teknologi yang kian pesat itu. Ada istilah “Revolusi Komunikasi” sebagaimana dikatakan Daniel Lerner, “Masyarakat Pasca Industri” (the post industrial society) dari Daniel Bell, “Abad Komunikasi” atau “Gelombang Ketiga” (the third wave) dari Alvin Toffler, Global Village/kampung global (Marshall McLuhan).

Istilah Collin Cherry juga tidak jauh berbeda. Fenomena globalisasi sebagaimana digambarkan di atas sering diistilahkan dengan ledakan komunikasi massa. Ledakan komunikasi massa itu ternyata membawa implikasi geografis dan geometris. Implikasi geografis artinya, suatu daerah (baca: negara) pada akhirnya akan terseret arus pada jaringan komunikasi dunia. Adapun implikasi geometris adalah berlipatnya jumlah lalu lintas pesan yang dibawa dalam sistem komunikasi yang jumlahnya berlipat-lipat. Saat ini kita tidak bisa membayangkan bahwa satelit kita dilewati (menjadi perantara) banyak informasi dan pesan. Terseret dalam arus jaringan komunikasi dunia juga termasuk konsekuensi-konseuensi diantaranya ada pasar bebas, demokrasi, hak asasi manusia dan lain-lain.

Akibat tiadanya batas-batas antara negara, maka dunia ini bisa disebut dengan Global Village. Kita bisa membayangkan, apa yang terjadi di sudut wilayah dunia ini secepatnya bisa diketahui warga dunia. Analoginya hampir sama dengan kehidupan di desa. Perbedaannya, kalau di pedesaan mengandalkan komunikasi tatap muka (gethok tular) sementara untuk dunia modern sekarang ini mengandalkan teknologi modern, salah satunya internet.

Dengan perantaraan internet, masyarakat dunia bisa menjelajah setiap ruang dan waktu tanpa batas, kenyataan ini sama seperti gejala globalisasi. Internet telah memberikan peran dalam penyebaran informasi, kebijakan, peristiwa yang ada di dunia ini. Negara yang mengisolasi diri dari pergaulan dunia lambat laun akan terpengaruh.

Perubahan yang terjadi sebagaimana didambarkan di atas membawa implikasi ke banyak hal. Tidak saja perubahan proses komunikasi antar manusia tetapi juga perubahan institusi, organisasi, komunitas yang akhirnya berpengaruh pada keberadaan manusia itu sendiri. Secara konkrit lihat saja perubahan yang terjadi pada televisi kita. Beragam jenis dan format acara ditayangkan. Lihat saja reality show, infotainment, pembuatan iklan, pergaulan modern, eksploitasi orang-orang miskin dalam acara di televisi dan lain-lain.

Lihat saja acara Jika Aku Menjadi (JAM). Tayangan ini khas eksploitasi orang miskin yang dilegalkan dan dipertontontan yang menjadi lumrah. Mengapa? Semua yang disajikan penuh dengan rekayasa pembuat acara. Talent selalu dipilih wanita. Sebab, wanita harus diakui gampang untuk “dipaksa” menangis, disamping juga wanita mudah untuk diekploitasi karena kecantikannya. Mengapa bukan talent laki-laki? Secara visual laki-laki tidak menarik dan tidak gampang diajak menangis. Inilah perbedaannya. Jadilah eksploitasi dengan menjual kemiskinan. Jika Anda tidak setuju dengan pendapat ini, Anda boleh punya opini lain.

Buku yang tersaji di hadapan pembaca ini mencoba mengkritisi berbagai fenomena tersebut dari berbagai sudut pandang. Tentu saja dengan berbagai kekurangan yang ada, buku ini layak diacungi jempol. Mengapa? Mereka masih menjadi mahasiswa, tetapi mencoba berbuat lebih konkrit. Apa yang dirasakan, didengar, dilihat mereka tuangkan dalam bentuk buku. Karya-karya mereka tentu akan “menohok” para dosen-dosennya yang selama ini tidak mempunyai karya dalam bentuk buku.

Di tengah budaya dengar dan lihat, membuat buku (meskipun kumpulan tulisan) bukan perkara mudah. Apalagi masyarakat kita adalah masyarakat yang mementingkan hasil dari pada proses. Membuat buku adalah sebuah proses panjang untuk masa depan mereka.
Bagi mahasiswa, membuat buku mempunyai keuntungan ganda. Mereka berlatih menulis, mengomunikasi pemikirannya pada orang lain, belajar manajemen penerbitan buku, dan belajar menjualnya. Bukan soal gagah-gagahan, tetapi keberanian untuk mengubah keadaan. Sebagaimana yang saya katakan di awal, dunia ini maju ke depan dan terus akan berubah. Hanya ada dua pilihan; siap berubah atau Anda akan diubah.

Saya jadi ingat pesan Cristoper Morley “Ketika kita menjual buku kepada seseorang, kita tidak hanya menjual sekilo kertas serta tinta dan lem. Kita menjual suatu kehidupan yang sama sekali baru” .

Buku ini mempunyai kekurangan, jadi membutuhkan masukan dan kritik untuk penyempurnaan di masa datang. Hanya saja, saya berharap Anda tidak menjadi “tukang kritik”. Alangkah lebih baik jika kritik tersebut dituangkan dalam bentuk buku.
Selamat membaca.

 

(Tulisan ini merupakan kata pengantar buku “Serpihan Trend Komunikasi“, buku terbitan mahasiswa Univ. Muhammadiyah Surakarta, 2011)

Beyond Technology