Oleh Nurudin

Kehadiran sinetron adalah keniscayaan sejarah. Ia hadir karena tuntutan zaman. Dengan kata lain, meskipun punya dampak yang tidak diinginkan, ia akan tetap hadir di tengah penonton televisi Indonesia. Menolak bukan tindakan yang gampang. Lebih bijak jika melakukan antisipasi dengan melihat dampak plus minusnya.

Tak bisa dipungkiri, sinetron Indonesia memang telah banyak yang mengkritik. Kritikan itu bermuara pada; alur sinetron terlalu didramatisir yang jauh dari kenyataan di kehidupan nyata, sinetron hanya menuruti selera pasar saja, kepentingan televisi dalam mencari untung sendiri sangat transparan, pemerintah tidak bisa berbuat banyak, atau tidak ada lembaga penekan yang kuat. Tapi, kritikan tetap kritikan, sinetron akan jalan terus.

Pihak pengelola televisi memang menikmati kehadiran sinetron. Bagaimana tidak, sinetron ini justru yang mempunyai rating tinggi. Rating tinggi itu sama artinya dengan pendapatan melimpah karena penonton banyak dan pemasukan dari iklan juga tinggi. Begitu ada sinetron dengan genre tertentu sukses di sebuah stasiun televisi, akan diikuti oleh stasiun yang lain. Jadi, ada saling tiru atas tayangan di televisi tanah air. Hanya beberapa stasiun televisi tertentu saja yang bertahan tidak mudah meniru tayangan stasiun televisi lain. Namun memang dari segi pendapatan tidak melimpah. Ini memang pilihan orientasi masing-masing televisi.
Itu belum berbicara tentang dampak buruk yang ditimbulkannya. Penonton sinetron kebanyakan bukan berasal dari orang yang berpendidikan tinggi (dari segi ilmu bukan sekadar gelar semata). Mereka inilah penonton yang dieksploitasi oleh tayangan. Dan mereka inilah yang memang tidak mau diajak untuk berpikir kritis. Kelompok ini bisa jadi akan beranggapan bahwa apa yang ditayangan televisi itulah kenyataan sebenarnya. Padahal bukan seperti itu, bukan?

Subjektivitas Media
Media massa (di dalamnya beragam tayangan, termasuk sinetron) itu hanya mengonstruksi realitas yang terjadi di lapangan. Namanya mengonstruksi, jadi tidak semua yang diberitakan di lapangan itu bisa dilaporkan. Media mempunyai pilihan-pilihan untuk memberitakan fakta yang dilihatnya, melalui seorang wartawan. Lalu apakah wartawan yang memberitakan sebuah kejadian itu memberitakan realitas? Ia memberitakan realitas, tetapi realitas media bukan realitas sebenarnya.

Penjelasannya begini. Apa yang disajikan media massa itu memang sebuah realitas. Sebut saja realitas pertama (first reality). Sebagai realitas pertama ia tampil apa adanya. Ketika seorang melihat sendiri aktivitas di sekitarnya (misalnya gunung meletus) berarti ia melihat realitas senyatanya atau realitas pertama. Dalam posisi ini, fakta-fakta terjadi begitu saja sesuai “hukum alam”. Dengan kata lain, realitas pertama tentang aktivitas gunung meletus seperti yang dilihat oleh masing-masing orang, termasuk para wartawan.

Kemudian, dengan kemampuan yang dimiliki para wartawan itu merekam setiap kejadian dalam otaknya melalui alat bantu, entah menulis langsung, merekam pakai kamera atau memotretnya. Apa yang dicatat dan direkam wartawan ini tentu saja sangat tergantung dari filter masing-masing wartawan. Filter dalam kajian komunikasi massa bisa berwujud kondisi psikologis, jenjang pendidikan, pandangan politik, emosi, kepentingan, budaya atau sekadar kondisi fisik. Filter-filter itu harus diakui memengaruhi apa yang wartawan catat, rekam dan tulis.

Kalau sudah begini apakah yang diberitakan oleh wartawan tersebut sebuah realitas? Wartawan memang melaporkan realitas yang direkam dan dicatatnya karena ia memberitakan fakta-fakta di lapangan. Namun demikian realitas yang sudah diberitakan itu sangat dipengaruhi dan tergantung pada filter yang dipunyai masing-masing wartawan. Jadi, wartawan itu tetap memberitakan realitas tetapi realitas yang sudah dikonstruksi. Sebut saja realitas kedua (second reality).

Dengan demikian, wartawan yang memberitakan aktivitas gunung meletus sampai menimbulkan kecemasan masyarakat itu sebuah realitas, tetapi realitas kedua yang sudah bercampur dengan banyak aspek.

Kalau sudah begitu apakah yang diberitakan media massa itu subjektif karena sangat tergantung dari sang wartawan? Untuk menjawab ini ada baiknya kita mengutip pendapat Jakob Oetama. Dalam buku saya berjudul Jurnalisme Kemanusiaan, Membongkar Pemikiran Jakob Oetama tentang Pers dan Jurnalisme (2010) terungkap bahwa pemberitaan media massa itu objektivitas yang subjektif. Semua kejadian yang diberitakan media itu merupakan sesuatu yang objektif. Sedangkan bagaimana kejadian itu dipilih menjadi berita atau dilaporkan sebagai berita, jelas sesuatu yang subjektif.

Berita itu bukanlah kejadianya itu sendiri, tetapi berita ialah laporan tentang sesuatu kejadian aktual yang sudah melalui beberapa tahapan dan proses sampai menjadi sebuah berita yang muncul di media. Kejadian adalah realitas pertama (sebagaimana disebutkan di bagian awal), sementara berita adalah realitas kedua (ada yang menyebut realitas media).

Diakui atau tidak, faktor subjektivitas sering muncul dalam pembuatan sebuah berita. Ini tak lain karena dalam pembuatan berita, faktor pribadi wartawan terlibat jauh dalam pemilihan fakta-fakta di lapangan. Wartawan menulis berita apa adanya saja sudah subjektif karena ia memilih dan memilah fakta-fakta yang disajikan (bukan fakta keseluruhan). Apalagi kepentingan media ikut memengaruhinya.

Contoh kecil saja begini. Ketika memberitakan korban kecelakaan yang dialami oleh seorang perempuan umur 25 tahun, masing-masing wartawan bisa membuat profiling (pelabelan) yang berbeda satu sama lain. Bisa jadi seorang perempuan itu disebut dengan “perempuan karir”, “perempuan yang bertubuh bahenol”, “wanita yang punya rambut terurai panjang”, atau “wanita yang berwajah manis”. Itu semua sangat tergantung dari persepsi, latar belakang, pengalaman, tuntutan kerja wartawan dan misi-visi medianya. Apalagi jika wartawan yang menulis itu punya kepentingan pribadi di balik pembuatan sebuah berita.

Berkaitan dengan itu, Dennis McQuail (2000) pernah juga mengungkapkan tentang peran media yakni as a window on events and experience dan as a mirror of events in society. Media itu seperti sebuah jendela. Ketika seseorang membuka jendela rumah, ia bisa memandang peristiwa di luar jendela itu. Namun demikian, peristiwa yang ada hanya sebatas sudut pandang jendela tersebut dan bukan semua peristiwa yang sesungguhnya terjadi. Jendela juga bisa dianalogikan sebagai sebuah jendela. Melalui “jendela itu” kita bisa membaca peristiwa tentang aktivitas gunung Bromo. Tetapi sekali lagi, bukan semua peristiwa yang terjadi, tetapi hanya sebatas sudut pandang yang bisa ditangkap media (realitas kedua).

Sementara itu, media juga bisa sebuah cermin peristiwa di masyarakat (a mirror of events in society). Cermin hanya sebuah pantulan dari kejadian, sama seperti kalau kita sedang bercermin. Apa yang tersaji dalam cermin bukan kenyataan sesungguhnya, tetapi sekadar pantulan dari fakta. Sebagai cermin, media pun hanya mampu memantulkan sebagian kecil dari kejadian yang berlangsung di masyarakat dan tak mampu memenuhi seluruh keinginan manusia.

Bagaimana Dengan Sinetron?
Sinetron jelas bukan berita. Berita saja kalau sudah masuk dalam media massa bukan kejadian atau realitas sesungguhnya. Apalagi jika dikaitkan dengan sinetron yang penuh dengan rekayasa alur cerita. Tujuannya, yang penting adalah menghibur. Ini poin penting yang bisa kita lekatkan pada sinetron Indonesia. Bahkan bisa dikatakan “kodrat sinetron itu menghihur”.

Mengapa begitu? Realitas menghibur dari sebuah sinetron itu adalah bisa dinikmati dengan tidak memakai perangkat ilmu pengetahuan. Semua orang yang normal, bisa mendengar dan melihat bisa menonton sinetron. Bahkan sambil tidur pun tak masalah. Jadi sinetron itu sangat sangat subjektif, bukan?

Karenanya, judul yang diangkat dalam buku itu adalah Sinetron, Menghibur Diri Sampai Mati. Judul itu bisa mempunyai dua arti; pertama, sinetron akan terus menghibur sampai penontonnya bosan sendiri, untuk tak mengatakan mati disebabkan menonton sinetron. Kedua, sinetron hanya bisa dibunuh fungsi menghiburnya kalau televisinya dimatikan.

Buku yang tersaji di tengan pembaca ini adalah cara mahasiswa menganalisis kehadiran sinetron. Karena mahasiswa, jelas khas yang ada pada dunia mereka dengan beberapa kelemahan yang melekat. Tapi, sebagai mahasiswa mereka tetap punya kewajiban untuk meninjau dari sudut pandang akademis. Sebagai mahasiswa tidak hanya menganalisis dari segi positif tetapi bagaimana mereka bisa melakukan pembelajaran pada pembacanya. Sebut saja dengan istilah media literacy (melek media). Jadi, apa yang tersaji dalam buku ini bagian dari media literacy yang dilakukan mahasiswa. Meskipun tidak berdampak hebat, tetapi usaha mereka tetap diacungi jempol.

Buku ini tersaji dari naskah kuliah Komunikasi Massa Semester Pendek (SP) dalam waktu 1 bulan. Sebuah langkah yang cerdas karena dalam waktu singkat bisa dihasilkan sebuah buku.

Semoga buku ini memberikan alternatif sistem pembelajaran dalam perkuliahan yang selama ini dilakukan dan menyadarkan pembaca betapa sinetron di Indonesia tidak saja membodohi tetapi juga mencemaskan bagi perkembangan generasi mendatang. Jangan sampai pembodohan itu seolah menjadi legal dengan tayangan sinetron.

 

(Tulisan ini merupakan pengantar buku “ Sinetron, Menghibur Diri Sampai Mati” kumpulan tulisan karya mahasiswa penempuh mata kuliah Komunikasi Massa, Ilmu Komunikasi UMM, 2011)

Kodrat Sinetron itu Menghibur