Oleh Nurudin

 

Bisa jadi, ada pembaca yang menganggap judul buku Media-media Pembunuh Masyarakat terlalu bombastis. Pertanyaannya, apakah memang ada media yang tujuannya untuk membunuh masyarakat? Apakah media tidak diciptakan untuk mencerdaskan masyarakat?

Sebenarnya, mengatakan bahwa media semata-mata bertujuan untuk membunuh masyarakat juga kurang tepat. Tetapi, mengatakan bahwa media juga bisa membunuh masyarakat juga tidak salah. Membunuh dalam hal ini juga tidak hanya diartikan membunuh dalam arti fisik, tetapi harus diartikan dalam arti non fisik. Kalau memang begitu, bukankah media juga bisa membunuh masyarakat?

Analoginya begini, ada orang tua yang selalu menuruti keinginan anaknya, misalnya dalam soal pemilihan jajan. Orang tua itu selalu menuruti keinginan anaknya yang selalu minta jajan anak-anak yang mengandung vitsin (‘ciki-cikian”). Niat orang tua barangkali untuk menuruti keinginan anak. Dengan kata lain, yang penting anal-anaknya senang dan tidak rewel. Namun jika kita memahami lebih dalam, memanjakan anak dengan memberikan jajan “ciki-cikian” sebenarnya telah membunuh anak itu pelan-pelan. Tanpa sadar kesehatan anak sedang digerogoti jajanan seperti itu. Si anak senang-senang saja, karena mereka belum bisa berpikir kritis dan tak mengetahui dampak buruk jajan di masa datang.

Anak yang dibesarkan dengan jajan “ciki-cikian” akan rapuh kesehatannya. Bukankah jajan seperti itu telah membunuh anak secara pelan-pelan? Memang, jelas lain dengan membunuh anak dengan menikam pakai belati, tetapi bukankah esensinya sama saja yakni membunuh? Sebut saja, jajan ciki-cikian pembunuh anak-anak.

Nah media, khususnya televisi, tidak jauh berbeda dengan jajan “ciki-cikian” tersebut. Media punya potensi membunuh masyarakat secara pelan-pelan. Bagaimana perilaku membunuh yang ditunjukkan media? Media bisa dikatakan membunuh jika media tersebut tidak membuat cerdas, tidak memberikan pilihan alternatif yang lebih baik, dan membuat masyarakat semakin bodoh.

Barangkali, masyarakat tidak sadar bahwa selama ini mereka dibodohi media massa, sama dengan analogi anak kecil yang senang jajan “ciki-cikian”. Pihak televisi, misalnya, sekadar menuruti kebutuhan masyarakat saja. Dengan kata lain, ia tidak perlu memikirkan secara dalam dampak buruk televisi bagi perkembangan masyarakat di masa datang. Pokoknya, buat acara yang masyarakat membutuhkan, titik. Perkara ada dampak negatif, itu soal nanti.

Pola pikir yang ada pada media seperti tersebut di atas adalah pola pikir media-media pembunuh masyarakat. Media yang memberikan informasi sepihak, menutupi informasi yang seharusnya bisa diketahui masyarakat juga masuk dalam jenis media pembunuh. Inilah mengapa buku ini diberi judul Media-media Pembunuh Masyarakat.

Sekarang kita lihat televisi. Apakah acara infotainment (saya lebih senang menyebutnya infotainer yang berarti informasi tentang para “penghibur”) mendidik masyarakat? Acara seperti itu, jelas hanya mengumbar informasi, gosip, isu, dna informasi yang tidak mendidik. Tetapi mengapa masyarakat menyukainya? Masyarakat memang masih belum terdidik, sehingga sangat menyukai acara tersebut. Mereka tinggal menikmatinya tanpa membutuhkan perangkat pemikiran yang mendalam. Dengan kata lain, orang awampun bisa menikmatinya. Itulah realitas masyarakat kita yang memang suka dengan sesuatu yang artifisial, yang bisa dilihat dan bukan sesuatu yang susbtansial. Mereka yang dari golongan terdidik jelas tidak menyukai acara jenis itu. Apakah Anda masih ingin menontonnya?

Kita buktikan pada kasus yang lain. Buku ini menunjukkan, saat terjadi kasus lumpur Lapindo, ada media yang mencoba menutup-nutupi gejolak masyarakat. Bahkan, media yang punya hubungan dengan PT Lapindo Brantas menyebut bukan lumpur Lapindo, tetapai lumpur Sidoarjo. Ada pelabelan nama yang terkesan sengaja dibuat karena ada kepentingan di baliknya. Cara-cara pelabelan yang tidak adil ini jelas membunuh masyarakat. Mengapa? Sebab masyarakat tertutup peluang untuk mendapatkan informasi yang lebih lengkap dan adil.

Memang, mencari media yang independen sangatlah susah. Tetapi, usaha ke arah sana tentu harus menjadi tuntutan. Menutupi sebuah fakta memang tidak salah, tetapi menutupi dengan membabi buta dengan menonjolkan fakta lain secara berlebihan juga tindakan yang tidak bijaksana.

Jika media sudah seperti itu, masyarakat harus bersuara. Sekecil apapun aspirasi masyarakat perlu disuarakan. Salah satu suara yang sedang diteriakkan adalah dari kalangan mahasiswa atas ketidakadilan tayangan yang dilakukan media di sekitar kita. Meskipun kecil suara mahasiswa itu tetapi yang pasti mereka telah bertindak dan berbuat untuk mengubah keadaan di sekelilingnya.

Buku ini adalah bentuk kepedulian dan usaha berbuat yang lebih cerdas dari sekadar omongan. Sebab, buku akan bisa diwariskan ke generasi selanjutnya karena akan didokumentasikan. Beda dengan omongan yang bisa hilang sejalan dengan tiadanya orang yang mengatakan itu. Buku adalah warisan berharga yang tiada duanya. Sebab, tidak semua orang mau dan mampu melakukan proses perubahan dengan buku. Bukan pada hasilnya, tetapi proses yang sudah dijalankannya. Juga bukan pada perubahan masa kini, tetapi masa datang. Dalam posisi inilah sebaiknya pandangan orang tentang buku ini perlu ditempatkan.

Saya sangat mengapresiasi secara mendalam atas terbitnya buku ini. Meskipun tidak sepopuler para artis, aktivitas menerbitkan buku di kalangan mahasiswa akan mempunyai gengsi tersendiri. Tidak saja meningkatkan rasa percaya diri penulis-penulisnya, tetapi juga menekan pembunuhan yang dilakukan media secara legal, bersama-sama dan sangat transparan. Jadi, “publikasikan atau menyingkirlah”.

 

 

(Tulisan ini merupakan pengantar buku “Media-media Pembunuh Masyarakat” kumpulan tulisan karya mahasiswa Univ. Muhammadiyah Malang, 2010)

 

Mari Menekan Kebodohan yang Dilegalkan Media