Determinisme berarti paham yang menganggap bahwa setiap kejadian atau tindakan yang dilakukan manusia merupakan konsekuensi kejadian sebelumnya. Tindakan manusia tersebut tidak hanya menyangkut jasmani tetapi juga rohani. Bahkan apa yang dilakukan manusia sebagai konsekuensi kejadian sebelumnya itu tak jarang di luar kemauannya sendiri.

Jika arti kata determinisme itu dikaitkan dengan teknologi (determinisme teknologi) bisa diartikan bahwa setiap kejadian atau tindakan yang dilakukan manusia itu akibat pengaruh dari perkembangan teknologi. Perkembangan teknologi tersebut tidak jarang membuat manusia bertindak di luar kemauan sendiri.

Analoginya bisa begini. Pada awalnya, manusialah yang membuat teknologi, tetapi lambat laun teknologilah yang justru memengaruhi setiap apa yang dilakukan manusia. Zaman dahulu belum ada Hand Phone dan internet. Tanpa ada dua perangkat komunikasi itu keadaan manusia biasa saja. Tetapi sekarang dengan ketergantungan pada dua perangkat itu manusia jadi sangat tergantung. Apa yang bisa membayangkan jika manusia yang sudah sangat tergantung dengan HP atau internet dalam sehari tidak memanfaatkannya? Adakah sesuatu yang kurang dalam hidup ini? Inilah yang dinamakan determinisme teknologi (meskipun toh teknologi yang menciptakan manusia itu sendiri).

Luhanian
Determinsime teknologi adalah istilah, sering juga disebut dengan teori, yang dikemukakan oleh Marshall McLuhan pada tahun 1962 dalam tulisannya The Guttenberg Galaxy: The Making of Typographic Man. Ide dasar teori ini adalah bahwa perubahan yang terjadi pada berbagai macam cara berkomunikasi akan membentuk pula keberadaan manusia itu sendiri. Teknologi membentuk individu bagaimana cara berpikir, berperilaku dalam masyarakat dan teknologi tersebut akhirnya mengarahkan manusia untuk bergerak dari satu abad teknologi ke abad teknologi yang lain. Misalnya dari masyarakat suku yang belum mengenal huruf menuju masyarakat yang memakai peralatan komunikasi cetak, ke masyarakat yang memakai peralatan komunikasi elektronik.

McLuhan berpikir bahwa budaya kita dibentuk oleh bagaimana cara kita berkomunikasi. Paling tidak, ada beberapa tahapan yang layak disimak. Pertama, penemuan dalam teknologi komunikasi menyebabkan perubahan budaya. Kedua, perubahan di dalam jenis-jenis komunikasi akhirnya membentuk kehidupan manusia. Ketiga, sebagaimana yang dikatakan McLuhan bahwa “Kita membentuk peralatan untuk berkomunikasi, dan akhirnya peralatan untuk berkomunikasi yang kita gunakan itu akhirnya membentuk atau mempengaruhi kehidupan kita sendiri”.

Kita belajar, merasa, dan berpikir terhadap apa yang akan kita lakukan karena pesan yang diterima teknologi komunikasi menyediakan untuk itu. Artinya, teknologi komunikasi menyediakan pesan dan membentuk perilaku kita sendiri. Radio menyediakan kepada manusia lewat indera pendengaran (audio), sementara televisi menyediakan tidak hanya pendengaran tetapi juga penglihatan (audio visual). Apa yang diterpa dari dua media itu masuk ke dalam perasaan manusia dan mempengaruhi kehidupan sehari-hari kita. Selanjutnya, kita ingin menggunakannya lagi dan terus menerus. Bahkan McLuhan sampai pada kesimpulannya bahwa media adalah pesan itu sendiri (the medium is the message).

Media tak lain adalah alat untuk memperkuat, memperkeras dan memperluas fungsi dan perasaan manusia. Dengan kata lain, masing-masing penemuan media baru yang kita betul-betul dipertimbangkan untuk memperluas beberapa kemampuan dan kecakapan manusia. Misalnya, ambil sebuah buku. Dengan buku itu seseorang bisa memperluas cakrawala, pengetahuan, termasuk kecakapan dan kemampuannya. Seperti yang sering dikatakan oleh masyarakat umum, dengan buku, kita akan bisa “melihat dunia”.

Mengikuti teori ini, ada beberapa perubahan besar yang mengikuti perkembangan teknologi dalam berkomunikasi. Masing-masing periode sama-sama memperluas perasaan, dan pikiran manusia. McLuhan membaginya ke dalam empat periode. Di dalam masing-masing kasus yang menyertai perubahan itu atau pergerakan dari era satu ke era yang lain membawa bentuk baru komunikasi yang menyebabkan beberapa macam perubahan dalam masyarakat.

Pertama-tama adalah era kesukuan. Era ini kemudian diikuti oleh era tulisan, kemudian era mesin cetak dan terakhir adalah era media elektronik dimana kita berada sekarang. Bagi masyarakat primitif di era kesukuan, pendengaran adalah hal yang paling penting. Peran otak menjadi sangat penting sebagai wilayah yang mengontrol pendengaran .

Dengan pengenalan huruf lambat laun masyarakat berubah ke era tulisan. Era ini mendudukkan kekuatan penglihatan sepenting pendengaran. Dengan memasuki era tulisan terjadi perubahan yang penting dan perasaan serta pikiran manusia semakin diperluas. McLuhan menyebutkan bahwa perubahan dengan penggunaan tulisan sebagai alat berkomunikasi menjadi pendorong munculnya ilmu matematika, filsafat dan ilmu pengetahuan yang lain.

Era baru tulisan itu berakhir setelah ditemukannya mesin cetak. Mulailah kita memasuki era mesin cetak. Era mesin cetak ini telah mengantarkan manusia pada fenomena komunikasi yang tidak kecil perannya dalam mengubah masyarakat yakni ditemukannya media cetak (surat kabar). Penemuan mesin cetak oleh Gutenberg menjadi titik awal munculnya “era cetak” dan berbagai aktivitas manusia tersebar lebih luas. Kemampuan yang terjadi pada mesin cetak ini turut memberi andil dalam membentuk pandangan dan opini orang-orang di seluruh dunia.

McLuhan percaya bahwa penemuan telegraf pada tahap selanjutnya, mengantarkan orang-orang memasuki era elektronik. Kemampuan yang terjadi akibat era elektronik menyebabkan perluasan yang lebih baik pikiran dan perasaan manusia. Manusia tidak saja mengandalkan pendengaran dan penglihatan,tetapi keduanya sekaligus. Dengan era elektronik dunia seolah semakin sempit. Inilah yang disebut McLuhan sebagai desa global (global village). Aktivitas manusia tidak akan lepas dari aktivitas manusia yang lain, bahkan desa global telah membentuk manusia menjadi makhluk individual.

Ketika kita memanfaatkan media elektronik seperti komputer yang dipasang peralatan internet kita bisa “mengitari dunia” ini sendirian. Kita bisa berdiskusi, chatting atau mengirim surat dengan e-mail. Dengan e-mail, kita sendiri dan teman yang dituju sajalah yang tahu isi surat itu. Kalau kita ingin mengirimkan kepada yang laini kita tinggal meneruskannya (mem-forward) ke orang yang kita tuju.

Media Massa
Keberadaan media massa (cetak dan elektonik) adalah bagian dari sejarah perkembangan teknologi komunikasi juga. Kalau media massa didudukkan layaknya manusia ia akan terpengaruh oleh perkembangan teknologi komunikasi. Lihat saja, dahulu media cetak hanya dibuat dan disebarkan dengan cara-cara yang sangat sederhana sekali. Acta Diurna (cikal bakal munculnya media cetak) pada zaman Romawi membuktikan itu.

Kemudian berkembang terus sampai yang saat saat ini kita lihat. Tak terkecuali dengan media elektronik. Hampir semua stasiun televisi sering melakukan siaran langsung. Meskipun fenomena yang wajar bagi masyarakat sekarang, kalau kita mengaca pada era sebelumnya itu sebuah lompatan yang jauh.

Perkembangan internet juga membawa konsekuensi dari media massa lain. Semua media massa saat ini memanfaatkan perkembangan internet. Televisi atau media cetak tidak cukup dengan dirinya sendiri, ia membutuhkan peran internet pula.
Jika media massa itu kita pahamai sebagai perangkat teknologinya, ia telah memengaruhi keberadaan manusia. Coba tanyakan pada seseorang apakah dalam sehari bisa menghindar dari terpaan media massa? Jawabannya pasti tidak bisa. Mulai dari bangun pagi hingga tidur malam manusia dipengaruhi media massa.

Penaruh yang sedemikian besar itu menyebabkan ketergantungan manusia pada teknologi sangatlah tinggi. Saya pernah bertanya kepada mahasiswa, “Berapa kali Anda membuka FB setiap hari?”. Jawabannya sangat menyengangkan. Mereka umumnya membuka FB puluhan kali, bahkan tidur dan di kamar mandipun bisa FB-an. Fenomena yang sangat luar biasa bukan?

Determinisme teknologi media massa karenanya memunculkan dampak. Media massa mampu membentuk seperti apa manusia. Manusia mau diarahkan pada kehidupan yang lebih baik media massa punya peran. Namun demikian, media massa juga punya andil dalam memperburuk keberadaan manusia itu sendiri.
(Naskah ini berasal dari bagian buku naskah buku “Teknologi Industri Media dan Perubahan Sosial” buku kumpulan tulisan mahasiswa pasca Sarjana UMM, 2010)