Komunikasi Propaganda

komunikasi propaganda Judul: Komunikasi Propaganda

Penulis: Nurudin

Penerbit: Remaja Rosdakarya Bandung,

Cetakan Pertama, Juli 2001

Tebal: (viii + 155) halaman.

PROPAGANDA sebetulnya sering kita bicarakan, karena propaganda memang tumbuh di tengah-tengah masyarakat. Ia menjadi bagian dari alat atau teknik berkomunikasi dan dijadikan sebagai salah satu metode dalam komunikasi.

Sejalan dengan tingkat perkembangan teknologi komunikasi yang kian pesat, maka metode komunikasi pun mengalami perkembangan yang pesat pula. Namun semua itu, mempunyai aksentuasi sama yakni komunikator menyampaikan pesan, ide, dan gagasan, kepada pihak lain (komunikan). Hanya model yang digunakannya berbeda-beda.

Bila dirinci secara lebih konkret, metode komunikasi dalam dunia kontemporer saat ini yang merupakan pengembangan dari komunikasi verbal dan nonverbal meliputi banyak bidang, antara lain jurnalistik, hubungan masyarakat, periklanan, pameran/ eksposisi, propaganda, dan publikasi. Berdasarkan metode dalam komunikasi seperti tersebut tadi, semakin jelas kiranya, bahwa propaganda menjadi salah satu metode dalam komunikasi.

Tentunya, karena propaganda menjadi bagian dari kegiatan komunikasi, maka metode, media, karakteristik unsur komunikasi (komunikator, pesan, media, komunikan) dan pola yang digunakan, sama dengan model-model komunikasi lain. Oleh karena itu, unsur komunikasi secara umum juga berlaku bagi propaganda.

BAHASAN singkat di atas merupakan sekelumit dari buku tentang propaganda dan relevansinya dengan bidang komunikasi. Buku Komunikasi Propaganda ini berusaha menghadirkan konsepsi integral dan komprehensif mengenai propaganda, yang belakangan ini mengalami peyoratif (pemburukan) makna.

Oleh karena itu, buku ini mencoba menggali permasalahan dasar, sejarah, dampak, berbagai kasus propaganda di Indonesia dan sekaligus antisipasinya jika berdampak negatif, dengan counter propaganda. Itu artinya, kita tidak perlu apriori pada propaganda, demikian juga tetap harus waspada terhadap dampak buruk yang bisa ditimbulkan.

Pertama-tama buku ini membawa pembaca pada sebuah pemahaman bahwa propaganda itu bisa diibaratkan sebuh ilmu. Tentunya, ilmu itu akan membutuhkan hasil positif jika melekat pada orang yang mempunyai kepribadian baik. Namun, propaganda akan menghasilkan kejelekan dan menimbulkan kesengsaraan manakala melekat pada orang yang tidak baik.

Hal tersebut dapat dibuktikan oleh sejarah antara lain bagaimana Napoleon Bonaparte menggunakan propaganda politik untuk memenangkan perang. Serta tak terkecuali seorang Adolf Hitler yang menggunakan propaganda untuk memusuhi suatu ras dan memenangkan perang dengan meluaskan jurang pemisah antara negara lain sehingga terjadi perpecahan. Jadi propaganda akan berimplikasi baik atau buruk sangat tergantung pada komunikatornya.

Seperti yang telah disebutkan sebelumnya bahwa sekarang ini propaganda mengalami peyoratif makna yang cukup signifikan, maka buku karya alumnus Jurusan Ilmu Komunikasi FISIP Universitas Sebelas Maret Surakarta ini menjelaskan bahwa yang membuat propaganda mengalami pemutarbalikan fakta, disalahgunakan untuk tidak hanya menyebut mengalami makna peyoratif, adalah disebabkan hal-hal sebagai berikut.
Pertama, propaganda mengalami sisi negatif jika telah digunakan dalam bidang-bidang sekuler.

Kedua, propaganda akan mengalami makna negatif sangat tergantung pada peran pemimpin yang menggunakan propaganda tersebut.
Ketiga, propaganda berkait erat dengan situasi dan kondisi masyarakatnya.
Keempat, propaganda dalam perkembangannya hanya digunakan oleh pihak-pihak tertentu yang tak bertanggung jawab dalam mengejar ambisinya.

Pada bab selanjutnya buku ini mengetengahkan bagaimana teknik melakukan propaganda. Ada beberapa teknik yang bisa digunakan dalam melancarkan propaganda. Efektif tidaknya dan pilihan mana yang digunakan, sangat bergantung pada kondisi komunikan, kemampuan komunikator (propagandis), lingkungan sosial politik dan budaya masyarakatnya.

Dalam buku itu disebutkan, beberapa teknik propaganda dan uraiannya. Sedangkan media yang dapat digunakan dalam kegiatan propaganda, disebutkan: media massa, buku, film, dan selebaran.

***
PENULIS buku itu kemudian membawa pembaca pada paradigma secara utuh, dan diberi uraian tentang implementasi propaganda politik pada masa tiga Presiden Indonesia yang pernah menjabat yaitu Soeharto, BJ Habibie, dan Abdurrahman Wahid.
Di era Soeharto atau yang lebih dikenal masa Orde Baru, propaganda politik yang pernah dilakukan antara lain; (1) propaganda menampilkan citra baik kepribadian pemimpin, (2) propaganda pembangunan ekonomi, (3) propaganda dengan organisasi berbasis militer, (4) propaganda sakralisasi Pancasila dan UUD 1945, (5) propaganda penertiban politik dan asas tunggal, dan (6) propaganda dengan politisasi agama.
Pada era BJ Habibie propaganda yang sering diserukannya adalah tentang demokratisasi. Selain itu juga propaganda moral altruisme bangsa dan propaganda pseudo demokrasi.

Untuk era Abdulrrahman Wahid (Gus Dur) yang selama memimpin bangsa ini sangat dipenuhi pro-kontra di masyarakat, dinamika propaganda Gus Dur yang khas dan layak disimak dalam buku ini adalah propaganda menggunakan language politic, mempropagandakan fiqh politik, propaganda “kesejahteraan dan demokrasi sama-sama penting”, propaganda Ketetapan (Tap) MPRS No XXV/MPRS/1966, propaganda negara tanpa “tentara”, propaganda politik memaafkan, dan terakhir propaganda demokrasi dengan teologi inklusivisme.

Jika propaganda berdampak negatif dan kita tak ingin propaganda seperti itu berkembang di masyarakat, maka tentu saja harus dilawan. Usaha melawan propaganda inilah yang dinamakan counter propaganda. Khusus pembahasan masalah counter propaganda dapat disimak pada bab akhir dari buku karya Nurudin ini.
Dalam counter propaganda, propagandis memberikan kebenaran ide dan gagasan yang sudah melenceng, memberikan fakta-fakta empirik beserta dampak positif yang dimungkinkan terjadi. Counter propaganda harus dilakukan terus-menerus agar tertanam kuat di benak komunikan. Atau kalau sudah tertanam kuat keburukan, propaganda bisa sedikit banyak mempengaruhi pola pikirnya.

Jika komunikan jadi bimbang mempertimbangkan kembali keyakinannya-setelah sebelumnya mempercayai dan berperilaku jelek mengikuti propaganda terdahulu-itu artinya counter propaganda bisa dikatakan setengah berhasil (hlm 125).
Kayaknya Nurudin ingin membuat pembaca lebih memahami apa yang diuraikannya, maka pada bagian ini pula ia memberikan beberapa contoh kasus counter propaganda. Kenapa hal ini dilakukan? Sebab, berbagai kasus itu menolak atau menunjukkan tentang ketimpangan propaganda yang dilakukan pihak lain (pemerintah) dan memberikan esensi dasar obyektivitasnya.

Ini bukan berarti kasus itu seratus persen benar. Hanya ada beberapa indikasi mengembalikan sesuatu pada posisi semula yang tak lain dan bukan mempunyai esensi counter propaganda.

Secara keseluruhan buku ini bisa dijadikan pegangan untuk memfungsikan propaganda secara lebih baik, beretika, sebagai propagandis yang bermoral.

***
DENGAN membahami makna dan seluk beluk propaganda, kita akan mudah mengerti atau menangkap sesuatu yang ditawarkan oleh siapa pun. Misal membaca iklan, mendengarkan promosi barang jualan atau gagasan, dan sebagainya. Pendeknya, kalau kita menguasai masalah propaganda, tak akan mudah tergiur atau terperosok ke hal-hal yang tidak kita inginkan.

Itulah barangkali sumbangan Nurudin dengan menulis buku tersebut.

(Ardiansyah,mahasiswa Jurusan Teknik Informatika Universitas Ahmad Dahlan, Yogyakarta )
(Sumber: Kompas, 26 Oktober 2001).

 

Komunikasi Propaganda